dakwah fashion strategidakwah kalangan hijabers

TREN DAN PERILAKUhijabers communityDi sini jilbab, di sana jilbab. Begitu banyaknya perempuan memakai jilbab sekarang. Dan mereka bukan cuma sekadar memakai jilbab, tapi juga membuat kreasinya, hingga jilbab itu tampak makin cantik dan indah dipandang. Para hijabers (demikian mereka menyebut diri) hendak menun­jukkan pada semua orang, bahwa dengan berjilbab pun mereka bisa tampil modis. Bergaya namun tetap syar’i.

Reina yang bergabung dalam Hijabers Community, sebuah komunitas perempuan berjilbab mengaku sangat terkesan dengan pola dakwah para hijabers ini. Mahasiswi UNP ini mulanya memandang jilbab sebagai pakaian yang bukan cuma terlihat mere­potkan, tapi juga memakan biaya. Namun, setelah berin­teraksi dengan para mahasiswi di Hijaber Community, ditam­bah melihat bagaimana modis­nya para hijaber ini berbusana muslim, hatinya pun tergerak berjilbab. Ia langsung merasa satu keasyi­kan sendiri. “Rasanya senang bisa ber­kreasi memadupadankan pa­kai­an dan mem­buat kreasi jilbab. Saya merasa sangat nyaman, dan rasanya lebih cantik,” aku Reina yang be­berapa kali ikut acara kreasi jilbab yang diselenggarakan perusahaan kosmetik.

Utari Kurnia Dewi, ma­hasiswi  STAIN Bukittinggi mengakui, kalau aktivitas kreasi jilbab bisa membuat seseorang lebih kreatif. Sebab, ia akan terus berupaya mencari ide-ide baru. Menurut pendapatnya yang diamini Hema Risanti dari STKIP Padang, memakai jilbab modifikasi juga mampu menambah percaya diri. Kesan­nya “tidak jadul,” tambah Shinta Luciana, mahasis­wi, ATIP Padang,  Jurusan Kimia.

Dakwah Fashion

Yuli Oktavia dari Unand juga tergabung dalam Hijaber Community. Layaknya Reina, ia juga mengenal komunitas yang satu ini dari fanpage mereka di Facebook, lalu menjadi follower di Twitter dan rajin mengetahui berita terbaru melalui blog komunitas di hija­berscommunity.blogspot.com. Yu­li yang sudah berjilbab sejak SMA mengaku tertarik dengan pola pen­dekatan dakwah yang dilakukan kelompok ini.

“Beda dengan pendekatan kelom­pok dakwah yang banyak saya kenal, mereka umumnya berdakwah dengan dogma juga stigma, saya tidak suka. Hijaber Community berdakwah de­ngan pendekatan fashion, sesuatu yang memang disukai pe­rempuan remaja seperti saya,” ujar Yuli. Menurutnya dakwah busana muslimah dengan pendekatan fashion jauh lebih efektif.

“Saya mendoba berdakwah pada sepupu saya dengan menunjukkan padanya betapa cantik dan anggunnya perem­puan yang modis berbusana muslimah. Saya ajak dia ke toko pakaian, lalu meminta sarannya soal padu padan warna dan busana. Alham­dulillah dia jadi tertarik. Sekarang ia di Bandung dan bergabung dengan komunitas perempuan ber­jilbab di sana,” kata Yuli.

Patuh Rambu-rambu

Apapun model busananya, yang jelas syarat dasarnya tetap dipatuhi, demikian yang tersirat dari pendapat Yulia Angraini mahasiswi STAIN Bukittinggi. Dia tidak setuju dengan mo­difikasi jilbab yang sebatas menutup leher saja. Menu­rutnya, dalam Alquran dan Sunah, dianjurkan mengulurkan jilbab hingga dada. Jika syarat dasar dipatuhi, apapun model jilbab dan busana yang dipakai tentu sah-sah saja.

Reina yang aktif di fanpage Hijaber Community setuju dengan sedikit tambahan, “Zaman terus berubah, strategi dakwah juga mestinya berubah, mengikuti zaman. Dakwah fashion adalah bagian dari strategi itu. Rasul mengatakan, serulah suatu kaum dengan bahasanya. Jadi inilah yang kita coba lakukan, menyeru pe­rempuan muda zaman se­karang dengan ‘ba­hasanya’. Bahasa fashion,” ia menga­khiri. (Misra/Komunitas Jurnalistik)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s